Monday, August 8, 2016

Fatimah az Zahra Wanita Surga Yang Tak Ada Duanya


Fatimah az Zahra Wanita Surga Yang Tak Ada Duanya



Sebagian besar sejarawan Syiah dan Ahlussunah meyakini bahwa Fatimah az Zahra dilahirkan pada 20 Jumadil Tsani, tahun kelima diutusnya Nabi saw di Mekkah al Mukarramah. Sebagian sejarawan bahwa beliau lahir pada tahun ketiga atau kedua diutusnya Nabi saw. Seorang sejarawan dan ahli hadis Sunni berpendapat bahwa Fatimah lahir pada tahun pertama diutusnya Nabi saw. Jelas sekali bahwa menyingkap fakta seputar hari lahir dan hari wafat tokoh-tokoh besar dalam sejarah—meskipun dari sudut pandang sejarah dan penelitian berharga dan patut dijadikan bahan kajian—namun dari sisi analisa kepribadian tidaklah begitu penting. Yang penting dan utama adalah peran mereka dalam menentukan nasib manusia dan sejarah. Patut direnungkan bahwa Fatimah az Zahra terdidik di madrasah ayahnya, Rasul saw yang notabene adalah rumah kenabian. Sebuah rumah yang disitu wahyu dan ayat-ayat Al Qur’an diturunkan.

Fatimah termasuk kelompok pertama dari kaum Muslimin yang beriman kepada Allah Swt dan ia begitu tegar dan kukuh dalam keimanannya. Saat itu rumah yang dihuni Fatimah adalah satu-satunya rumah di kawasan Jazirah Arab dan dunia yang meneriakkan suara tauhid: “Allahu Akbar”. Az Zahra adalah satu-satunya perempuan belia di Mekkah yang mencium dan merasakan aroma tauhid di sekitarnya. Ia berada di rumahnya sendirian. Ia melalui masa kanak-kanaknya sendirian. Dua saudara perempuannya, yaitu Ruqayyah dan Kultsum berusia lebih tua beberapa tahun darinya. Barangkali rahasia di balik kesendirian ini adalah bahwa Fatimah sejak kecil harus memfokuskan perhatiannya pada latihan fisik dan pendidikan spiritual. Setelah menikah dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Fatimah tampil sebagai wanita teladan sepanjang masa. Putri Nabi saw ini bukan hanya teladan bagi kehidupan suami-istri dan menjadi potret keluarga Muslimah ideal, melainkan ia pun menjadi teladan dalam masalah ketaatan dan ibadah kepada Allah Swt.

Setelah selesai mengerjakan tugas rumah, Fatimah sibuk beribadah. Ia menunaikan shalat, berdoa, dan bermunajat di hadapan Sang Maha Esa serta mendoakan orang lain. Imam as Shadiq as meriwayatkan hadis yang sanad-nya (mata raktai perawi) bersambung ke Imam Hasan bin Ali as yang berkata: Aku melihat ibuku Fatimah as yang sedang menunaikan shalat di mihrabnya pada malam Jum`at dimana ia rukuk dan sujud sampai fajar Shubuh menyingsing. Dan aku mendengarnya berdoa untuk kaum mukminin dan kaum mukminat dan ia menyebut nama-nama mereka serta memperbanyak doa untuk mereka, bahkan ia tidak berdoa untuk dirinya sendiri sedikit pun. Lalu aku bertanya kepadanya: Wahai ibu, mengapa engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri sebagaimana engkau berdoa untuk orang lain? Ia menjawab: Wahai anakku, sebaiknya (mendoakan) tetangga dulu lalu (penghuni) rumah (diri kita dan orang-orang yang dekat dengan kita).[1]

 

TASBIH AZ ZAHRA DAN KEUTAMAANNYA

Mengapa Kisah Musa Paling Banyak Dalam al-Quran?

Mengapa kisah Musa banyak berulang di al-Quran? Apa latar belakangnya?




Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Musa ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Beliau bergelar kalimullah – orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia –. Dan beliau termasuk salah satu nabi ulul azmi. Dalam al-Quran, perjalanan beliau paling banyak disebutkan  oleh Allah, setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian yang menghitung, nama beliau disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran.
Kisah Musa Allah sebutkan secara terperinci ada di 4 surat: al-Baqarah, al-A’raf, Thaha, dan al-Qashas. Umat beliau, Bani Israil, adalah umat yang paling afdhal di zamannya. Allah berfirman,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. al-Baqarah: 47)
Dan perlu dipahami, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari mereka. Karena Allah sebut umat Muhammad sebagai khoiru ummah. Allah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110).

20 Keajaiban madu untuk tubuh

20 Keajaiban madu untuk tubuh




  • Madu kaya senyawa humektan. Hal ini membantu mempertahankan kadar air dalam kulit dan mengembalikan elastisitasnya, sehingga membuat kulit lentur.
  • Madu membantu mengangkat sel kulit mati dan mencegah munculnya keriput.
  • Antibakteri dan antimikroba pada madu membantu mencegah pertumbuhan bakteri tertentu. Sehingga digunakan untuk mengobati luka bakar dan lecet.

Wednesday, March 30, 2016

IKHTIAR MENCARI NAFKAH

IKHTIAR MENCARI NAFKAH




Beberapa hal dapat ditempuh seorang Muslim untuk mendapatkan,
menjaga dan mengembangkan usaha agar memenuhi kebutuhan
hidupnya dan keluarganya. Di antaranya:

1. Bertakwa
Imam Ar Raghib Al Ashfahani memberikan definisi takwa sebagai
“menjaga jiwa dari perbuatan berdosa, dengan meninggalkan
segala yang dilarang; dan takwa bisa menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan (karena syubhat,
ed.).” (Al-Mufradat fi gharibil Quran, hal. 531)

Anjuran menjaga ketakwaan berkaitan erat dengan upaya
mencari nafkah. Bekal takwa akan menjadi rambu-rambu dalam
mengais rezeki nya sehingga dia bisa menjamin bahwa uangnya
halal. Dari Abdullah bin Mas’ud Radliallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan ambilah yang baik dalam mencari rezeki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram).

Seimbang dalam berusaha dan menuntut ilmu.” (HR. Hakim)
Seorang Muslim yang bertakwa dituntut berlaku seimbang
antara menuntut ilmu dan mencari nafkah. Kekuatan ilmu dan
harta yang bersinergi baik akan melahirkan kekuatan dasyat dan
pengaruh positif bagi dakwah dan kebangkitan umat.




2. Profesional
Adalah kewajiban seorang Muslim bekerja profesional, baik untuk
pekerjaan skala kecil maupun skala besar. Jika sebuah pekerjaan
dilakukan secara profesional, insya Allah akan menghasilkan
keuntungan maksimal.

3. Menjaga waktu
Bagian dari ikhtiar seorang Muslim dalam bekerja adalah bisa
memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk hal yang bermanfaat, terkait urusan dunia dan akheratnya, sehingga tidak ada waktu untuk hal yang sia-sia.

4. Amanah
Amanah adalah sifat yang sangat agung. Allah dan rasul-Nya memerintahkan kepada setiap Muslim untuk menunaikan
amanah yang diembannya dan tidak berkhianat, sekecil apa pun
amanah tersebut.

5. Istiqamah
Seorang Muslim harus istiqamah dalam menuntut ilmu, beribadah dan berusaha maksimal menjalankan usaha dan meniti hidupnya.

6. Perbanyak doa
Doa sangat bermanfaat dalam segala hal, baik belum atau setelah
terjadi. Orang sombong enggan berdoa dan minta kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu berfirman,
‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau berdoa kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir [40]: 60)

Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa adalah
ibadah.” (HR. Ibnu Hibban, Abu Daud, Turmudzi, dan dishahihkan
al-Albani). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, lagi Maha Pemurah. Dia malu jika seseorang menengadahkan tangannya (meminta) kepada-Nya, kemudian dia menarik tangannya dalam keadaan hampa tanpa mendapat apa-apa.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat,silakan share semoga bermanfaat 
dan menginspirasi dan menjadi renungan bagi sahabat yang lainnya.


Saturday, March 26, 2016

Hak-Hak Suami Atas Isteri ( KITAB NIKAH )


Hak-Hak Suami Atas Isteri


KITAB NIKAH

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Hak-Hak Suami Atas Isteri

Sesungguhnya hak suami atas isteri mempunyai kedudukan yang sangat agung, sebagaimana hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan selainnya dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ.

“Hak bagi seorang suami atas isterinya adalah jika saja ia (suami) mempunyai luka di kulitnya, kemudian sang isteri menjilatinya, maka pada hakikatnya ia belum benar-benar memenuhi haknya.” [1]

Di antara hak-hak suami atas isterinya adalah sebagai berikut :
1. Wanita yang cerdas dan pandai akan mengagungkan apa yang telah diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan menghormati suaminya dengan sebenar-benarnya, ia bersungguh-sungguh untuk selalu taat kepada suami, karena ketaatan kepada suami termasuk salah satu di antara syarat masuk Surga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ اْلمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِهَا شِئْتِ.

“Apabila seorang wanita mau menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat terhadap suaminya, maka akan dikatakan kepadanya (di akhirat), ‘Masuklah ke Surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’”[2]

Perhatikanlah wahai wanita muslimah, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan ketaatan kepada suami termasuk syarat masuk Surga seperti halnya shalat dan puasa. Maka dari itu taatlah kepada suami dan janganlah engkau mendurhakainya, karena di balik kedurhakaan isteri kepada suami terdapat kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'alal
.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا.

“Dan Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, lalu ia menolaknya kecuali Yang ada di langit murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.” [3]

Doa agar dikaruniai keturunan yang shalih

Doa agar dikaruniai keturunan yang shalih




Do’a Pertama
===========

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.” (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) [QS. Al Furqon:74]

Doa Kedua
===========

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“ROBBI AWZI’NI AN ASYKURO NI’MATAKALLATI AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY” (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) [QS. Al Ahqof:15]

Doa Ketiga
===========

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, berkata,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN"
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih]”.

[QS. Ash Shaffaat: 100]

RAHASIA GARIS-GARIS TELAPAK TANGAN


---~~~** RAHASIA GARIS-GARIS TELAPAK TANGAN **~~~---



Pernahkah anda memperhatikan garis-garis aneh yang ada dikedua telapak tangan anda?!

Pernahkah anda merasa aneh dengannya, apa maknanya dan apa faidahnya ?!
Pernahkah anda bertanya kepada diri anda pada suatu hari apakah itu ?!
Maukah anda mengetahui rahasia garis-garis tersebut ?!
Lihatlah pada tapak tangan anda yang kanan, apa yang anda lihat ?!
Anda akan melihat garis-garis yang membentuk angka 18 (dalam angka arab).